Geologist

Geologist

Rabu, 07 Januari 2015

Gunung Batok

Gunung Batok

Gunung Batok memiliki umur yang sama dengan Gunung Bromo. Kedua gunung ini merupakan bagian dari sistem Gunung Api yang terbentuk setelah terbentuknya Kaldera Tengger. Gunung Batok memiliki ketinggian yang hampir sama dengan Gunung Bromo di sebelahnya.

Ciri khas dari Gunung Batok adalah memiliki litologi scoria dengan ciri khas struktur vesicular. Diinterpretasikan bahwa Gunung Batok ini adalah sebuah scoria cone yang terbentuk setelah pembentukan Kaldera Tengger. Scoria ini berciri sebagai berikut : warna cokelat kemerahan, struktur vesicular, komposisi material amorf.



Gunung Batok menyajikan pemandangan yang sangat bagus dan kebanyakan orang menggambarkan Gunung Batok adalah struktur Gunung yang ideal karena bentuknya persis seperti kerucut yang khas. Setiap tahunnya gunung ini merupakan target yang dikunjungi oleh para wisatawan asing maupun wisatawan lokal ketika hari libur. Selain wisatawan, Gunung ini merupakan salah satu sarana pembelajaran Vulcanologist Indonesia maupun dunia.
Gunung ini  menyajikan pola penyaluran radial yang khas dan sangat ideal. Hal ini bisa terbentuk karena litologi dari Gunung Batok ini adalah batuan yang fragmental. 

Kamis, 01 Januari 2015

MORFOSTRATIGRAFI SUNGAI CODE BAGIAN SELATAN JEMBATAN TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA

MORFOSTRATIGRAFI SUNGAI CODE BAGIAN SELATAN JEMBATAN TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
Nico Andreas Nainggolan
(11/314056/TK/38033)
Teknik Geologi UGM


I.            PENDAHULUAN
Penelitian morfostratigrafi kuarter penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan proses geologi dan pengaruhnya terhadap pembangunan serta pengembangan suatu daerah yang berada dalam endapan kuarter. Daerah penelitian berada dalam bentang alam fluvial yaitu sungai Code, tepatnya di sebelah selatan Jembatan Teknik UGM (Universitas Gadjah Mada). Titik kordinat berada di UTM 430612-9141910. Sungai Code merupakan bagian aliran dari sungai Boyong di hulu. Pada awalnya peneliti membuat hipotesa bahwa sungai Code merupakan sungai teranyam (braided stream) yang berubah menjadi sungai berkelok (meander stream). Penelitian dilakukan dengan metode pengamatan langsung di lapangan. Dalam pengamatan di lapangan banyak sekali hal yang bisa dipahami dengan menerapkan salah satu hukum geologi yang dicetuskan oleh James Hutton yaitu The Present is the Key to the Past.
II.          MORFOSTRATIGRAFI
Secara harafiah kata morfostratigrafi berasal dari bahasa yunani yaitu morpho yang berarti geometri, dan stratigraphy ( strata dan graheic ) strata artinya lapisan dan grpheic artinya grafik. Berdasarkan kata tersebut dapat disimpulkan bahwa morfostratigrafi merupakan pembagian atau pengelompokan bentukan alam berdasarkan bentukan morfologinya. Pembentukan morfologi pada suatu waktu akan menjelaskan sejarah dan prosesnya. Seiring proses yang berlangsung terus menerus dalam skala waktu bisa saja terjadi proses berbeda dan menghasilkan bentukan morfologi yang berbeda di tempat yang sama.
III.             MORFOSTRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN
Daerah penelitian berada di bagian selatan jembatan teknik UGM dengan dimensi panjang sungai ±75 m dan lebar sungai 15 m, stadia sungai dewasa.  Di bagian utara terdapat aliran sungai, bagian barat terdapat gedung SD (Sekolah Dasar), di bagian timur terdapat kebun warga dan di bagian selatan terdapat aliran sungai. Morfologi bentang alam fluvial yang terlihat di daerah penelitian adalah chanel bar, point bar. Selain morfologi yang dibentuk oleh alam tersebut, terdapat juga bentukan morfologi hasil konstruksi keteknikan. Sungai telah direkonstruksi untuk keperluan keteknikan dengan tujuan mengatur pola aliran sungai agar tidak terjadi bencana banjir di daerah dataran banjir. Morfologi bentang alam fluvial yang tidak terlihat setelah dilakukan rekonstruksi keteknikan adalah tanggul alam (natural leave), dataran banjir, dan lain lain. Dibawah ini akan dijelaskan morfostratigrafi daerah penelitian.

Dari hasil pengamatan di lapangan, banyak terlihat endapan point bar yang merupakan hasil endapan sungai bukan sekarang (endapan sungai sebelumnya). Hal ini dapat dilihat dari tidak ada nya cut of slope sebagai penghasil endapan pada point bar (Lihat gambar 2) . Sungai yang arah alirannya sudah dikontrol oleh konstruksi keteknikan ini sebelumnya adalah sebuah sungai berkelok. Hal ini dikuatkan oleh banyaknya point bar yang dijumpai di pinggiran sungai ini. Dari segi point bar nya saja kita sudah mengetahui bagaimana morfologi sungai ini sebelumnya.
Untuk memperkuat bukti bahwa sungai ini dulunya adalah sebuah sungai berkelok, maka pengamatan berlanjut ke tepian sungai yang sudah dibangun sebuah Sekolah Dasar (SD). Di gerbang masuk SD terlihat tumpukan endapan pasir yang cukup tebal (Lihat Gambar 3). Berjalan sedikit ke arah utara, hipotesa bahwa dulunya sungai ini adalah sungai berkelok semakin kuat karena disini dijumpai endapan pasir yang cukup tebal (lihat Gambar 4). Banyak penambang pasir yang sedang menambang pasir dari singkapan tersebut untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Banyaknya endapan pasir di tepian sungai ini menunjukkan bahwa endapan pasir ini dihasilkan dari endapan sungai sebelumnya (sebelum dilakukan konstruksi keteknikan/bronjong) yang belum terlalu lama karena belum mengalami litifikasi sehingga bisa disebut sebagai endapan kuarter modern. Besar kemungkinan endapan pasir ini adalah sebuah channel deposit.
Satu satunya produk endapan sungai saat ini yang ditemukan di lapangan adalah adanya bentukan channel bar. Channel bar ini terbentuk akibat adanya ground seal yang dibangun untuk mengurangi kekuatan arus sungai (Lihat gambar 5). Berkurangnya arus sungai akibat ground seal menghasilkan sebuah channel bar disetiap ground sealnya





Selasa, 30 April 2013

INTERPRETASI TIDAL FLAT


INTERPRETASI TIDAL FLAT


PROSES
Tidal flat merupakan salah satu sistem pengendapan sedimen yang berada di zona transisi antara daratan dan lautan. Sistem ini akan mencampur sedimen yang berasal dari darat (terrigenous) dengan marine (Ginsburg 1975).
Proses sedimentasi pada sistem ini didominasi oleh arus pasang surut namun tidak menutup kemungkinan pengaruh gelombang juga berperan penting pada saat deposisi berlangsung. Namun harus didukung juga oleh pasokan sedimen yang cukup. Pada saat arus naik disebut flood tide sedangkan pada saat arus turun disebut ebb tide (Samboogs Jr). Arus tidal (pasang surut) yang naik dan turun tersebut menjadi sebuat media transportasi sedimen hingga terdeposisi di zona transisi.
Pada sistem ini, kekuatan arus ada 2 level yaitu :
-          Low tide level
-          High tide level
Low tide level
Low tide level artinya arus yang memiliki arus yang lemah. Baik itu pada saat ebb tide maupun flood tide. Dengan kekuatan yang low tide, maka akan mengendapkan sedimen berukuran dominan pasir.
High tide level
High tide level artinya arus yang memiliki arus kuat (tinggi). Baik itu pada saat ebb tide maupun flood tide. Dengan arus yang high tude makan akan mengendapkan sedimen berukuran dominan mud (clay dan silt).
Kecepatan arus tidal sangat mempengaruhi sedimen yang tertransport dan terdeposisi. Semakin high maka akan mendeposisi sedimen berukuran halus (muddy). Sedangkan jika lambat (low), maka akan mendeposisi sedimen berukuran pasir. Sedimen berukuran pasir akan membentuk riple, dune, cross bedding.


 PENGENDAPAN

Sistem tidal (arus pasang surut) berada di zona transisi antara laut dan daratan. 
Lingkungan pengendapan tidal dibagi menjadi 3 zona yaitu : subtidal, intertidal dan supratidal.
Subtidal zone
-          Di daerah subtidal, sedimen tertransport dan terendapkan secara bedload dan dominan sedimennya pasir. Daerah subtidal didominasi oleh pengaruh besarnya arus tidal dan kecepatan arus namun dipengaruhi juga oleh gelombang. Daerah ini merupakan daerah low tide level.
-          Intertidal zone
Berada diantara low tide level dan high tide level. Sistem sedimentasi yang berlangsung adalah bedload dan suspended load sehingga hasilnya berupa litologi mud dan pasir. Namun tidak terdapat vegetasi.
-          Supratidal zone
Merupakan zona pengendapan high tide level. Ada juga tidal channel yang di isi oleh arus pasang surut yang extrem. Zona ini hampir di daratan dan kadang kadang tidak terkena arus pasang surut. Proses sedimentasi di zona ini adalah dominan suspension( suspended load).Ciri khas dari zona ini adalah terdapat juga vegetasi. Di daerah yang kering (arid), sedimen yang berasal dari laut akan mengalami pengendapan evaporit dan menjadi batuan evaporit seperti gipsum dan sebagainya.
sumber : Samboggs Jr, 

FASIES

Hasil endapan arus pasang surut akan menghasilkan ukuran yang menghalus ke arah pantai. Pada zona yang energi tinggi dan dekat dengan arus pasang surut yang rendah (low tide level) akan mengendapkan sedimen berukuran pasir (<5% mud). Sedangkan pada energi rendah dan arus pasang surut yang tinggi (high tide level) akan mengandung mud yang > 95%. Hasil pengendapan juga akan mengandung material dari laut yang berupa hewan laut seperti moluska dll.








DAFTAR PUSTAKA

Samboogs Jr, Principle of sedimentology and stratigraphy
Enciklopedia of sedimentary and stratigraphy


Kamis, 03 Januari 2013

Lingkungan Pengendapan Transisi dan Laut : Sistem Pulau Penghalang (Barrier island)


Lingkungan Pengendapan Transisi dan Laut : Sistem Pulau Penghalang
(Barrier island)


ABSTRAK
Sedimen diendapkan pada beberapa lingkungan pengendapan. Sedimen terendapkan pada lingkungan darat, transisi dan laut. Sistem pulau penghalang atau sering disebut barrier island merupakan salah satu sistem pada lingkungan pengendapan transisi dan laut. Barrier island merupakan tumpukan sedimen hasil gelombang dan proses angin. Terendapkan dipengaruhi oleh arus tidal. Barrier island biasanya terendapkan secara bertahap maupun langsung. Barrier terpisah dengan mainland(daratan). Barrier island mempunyai luas berkisar kurang dari 100m. Pada umumnya barrier island akan luas ketika supplai sedimen sangat berlimpah dan relatif sempit ketika erosi tinggi. Panjangnya tidak hanya dipengaruhi oleh banyak suplai sedimen tetapi juga oleh gelombang dan arus tidal dari laut.
            Barrier island merupakan gabungan dari tiga lingkungan yang berbeda. Ketiganya adalah subtidal-subaerial barrier-beachcomplex. Biasanya dibelakang barrier island terdapat estuari, lagoon, atau marsh. Barrier island ditemukan dibelahan dunia manapun kecuali antartika.
SISTEM PULAU PENGHALANG (BARRIER ISLAND)
Sistem pulau penghalang (barrier island) terbentuk pada relief pesisir yang rendah, dan continental shelves nya dapat menyediakan tempat untuk mengendapkan sedimen. Selain itu, ketika air pasang, sedimen dapat diendapkan menuju ke darat. Pada umumnya barrier terdapat pada 3 zona yaitu : beach, barrier interior, dan the landward margin. Daratan-pantai dan sistem pulau penghalang merupakan kumpulan sedimen yang lengkap. Bentuknya memanjang sebagai hasil pengendapan yang sejajar dengan garis pantai. Berbeda dengan sistem pengendapan lain seperti estuarine, bay, yang sifatnya memotong garis pantai. Sedimen yang dominan pada lingkungan pengendapan ini adalah pasir. Pasir pada sistem ini sangat tebal. Ketebalannya dapat mencapai 10-20 m (Reineck and Singh, 1980). Ketika barrier island terbentuk dan terendapkan, maka sedimen akan tergradasi dari darat hingga back barrier.

Beach deposits

Gambar 1. Beach hingga offshore(sumber : Encyclopedia of sediments and sedimentary rocks by Gerald V Midleton)


Beach deposits terbentuk pada muka pantai atau foreshore yang merupakan intertidal zone. Memanjang dari arus pasang yang rendah ke arus pasang yang tinggi yang dipengaruhi oleh gelombang. Sedimen pada foreshore biasanya didominasi oleh sedimen halus ke pasir sedang tetapi ada juga hamburan kerikil dan kerakal. Struktur sedimen yang terbentuk adalah laminasi yang dibentuk oleh arus yang datang dan arus balik. Tipis, dan mineral berat kadang kadang muncul. Mungkin akan terbentuk dune hingga antidune pada saat arus balik (backwash).
Shoreface deposits
Shoreface terbentuk pada lingkungan yang memanjang pengaruh arus yang lemah pada pantai hingga dasar gelombang yang terendah. Dasar gelombang merupakan kedalaman gelombang yang mendekati dasar laut. Kedalaman dasar gelombang pada shoreface biasanya sekitar 10-15 m, namun kedalaman ini dapat berubah secara signifikan ketika terjadi badai. Upper shoreface deposits terbentuk pada lingkungan yang didominasi oleh arus gelombang yang kuat dan arus sepanjang pantai (longshore currents). Struktur sedimen yang terbentuk adalah cross-bed. Ada juga terdapat trace fosil seperti skolithos namun tidak melimpah. Middle shoreface terbentuk dibawah kondisi energi yang tinggi yang dapat menghancurkan gelombang berasosiasi dengan longshore and rip currents. Sedimen yang terendapkan pasir halus-pasir sedang dengan silt yang minoritas. Lower shoreface  terbentuk pada kondisi energi yang relatif rendah. Mengandung pasir – pasir yang sangat halus namun mungkin mengandung silt and clay. Struktur sedimen yang terbentuk adalah perlapisan silang siur, planar stratification dll.

Back barrier

Back barrier terendapkan pada daratan barrier beaches. Terbentuk pada saat badai membawa gelombang dan memotong penghalang (barrier). Didominasi oleh butiran sedimen pasir yang berukuran halus hingga medium. Struktur sedimen yang terbentuk adalah laminasi planar dalam skala yang kecil hingga besar.


Gambar 2. Teori pembentukan Pulau penghalang (barrier island) (sumber : Encyclopedia of sediments and sedimentary rocks by Gerald V Midleton)


Pembentukan barrier island
  
Ada tiga teori yang membahas tentang   pembentukan barrier island (pulau penghalang) yaitu :
1.      Offshore Bar accretion oleh de Beamount, 1854
2.      Spit Accretion and breaching oleh Gilbert, 1885
3.      Mainland Detachment oleh Hoyt, 1967

Ketiga teori ini muncul dengan keunikannya. Sekarang mari kita bahas ketiganya.
1.      Offshore Bar Accretion (de Beamount, pada tahun 1854)
Menurut de Beamount, gelombang dari laut membawa sedimen yang dari laut ke offshore secara bertahap. Pada awalnya gelombang membawa sedikit sedimen, setelah itu gelombang yang lain membawa sedikit sedimen lain. Hingga akhirnya banyak sedimen yang terendapkan pada offshore hingga nantinya menjadi barrier island. Namun teori ini tidak disepakati karena pada daerah offshore bisa saja terjadi arus balik yang dapat menghancurkan sedimen yang sudah diendapkan sebelumnya. Sehingga kecil kemungkinan terendapkan sedimen menjadi pulau penghalang (barrier island).
2.      Spit Accretion and braeching
Menurut Gilbert, 1885 pulau penghalang terbentuk karena terbentuknya spit pertama kali. Spit itu mengalami hancuran (breaching) oleh badai gelombang sehingga terbentuk pulau penghalang.





3.      Maindland datachment
Teori ini dikemukakan oleh hoyt pada tahun 1967. Ia berpendapat bahwa pulau penghalang (barrier island) terbentuk oleh pengarus sea level yang naik-turun. Pada saat sea level turun, maka akan terendapkan sedimen setelah itu pada saat sea level kembali naik, maka otomatis akan mengendapkan sedimen yang lebih tinggi lagi. Hal ini marupakan kronologi pembentukan pulau penghalang (barrier island).

Tipe Morfologi Barrier Island

Bentuk barrier, stabilitas, dan proses erosional atau pengendapannya sangat dipengaruhi oleh suplai sedimen, kenaikan sea level, dan juga topografi dari daratannya. Ada dua tipe bentukan barrier yaitu :

1.      Prograding
Barriier yang terbentuk pada saat menuju ke darat (seaward direction). Prograding terbentuk dengan suplai sedimen yang melimpah pada saat periode yang stabil atau pada saat sea level naik dengan lambat. Pasir ini berasal dari offshore sources. Contohnya Provinceland spit pada utara Cape Cod.
Gambar 3. Progradation (sumber : Encyclopedia of sediments and sedimentary rocks by Gerald V Midleton)

1.      Retrograding
Pada saat suplai pasir yang tidak mencukupi untuk bolak balik dengan sea level yang naik. Menurut Moslow dan Colquhoun (1981) pasokan sedimen yang tidak cukup membentuk retrogradational. Ketika jumlah pasir yang berkontribusi terhadap barrier sedikit maka pasir akan tertransportasi dari barrier. Pasir akan hilang pada saat badai, tertransport pada saat erosional dll.
 Gambar 4. Retrogradational (sumber : Encyclopedia of sediments and sedimentary rocks by Gerald V Midleton)

Stratigrafi pulau penghalang (Barrier Island)

Barrier memperlihatkan variasi bentukan dengan tipe sedimen yang berbeda. Stratigrafi barrier terdiri dari butiran, mineral, dan banyak yang mencirikan sebuah endapan barrier. Beberapa hal yang mempengaruhi hal itu adalah suplai sedimen, kenaikan sea level, energi gelombang dan arus, iklim, dan topografi daratan pada saat barrier berkembang menjadi sebuah endapan stratigrafi. Faktor lain yang mempengaruhi ketebalan barrier adalah akomodasi wadah yang tersedia untuk mengakumulasi sedimen pada barrier.
Sekuen stratigrafi barrier biasanya mengandung endapan cerukan tidal, khususnya barrier yang memanjang di pesisir dimana tidal inlets (cerukan tidal) terbuka dan tertutup. Karena pada daerah ini merupakan daerah yang aktif. Ada istilah yang disebut up drift dan down drift. Updrift adalah pada saat barrier memanjang (elongates) sedangkan downdrift adalah pada saat barrier menurun (retreats).
Tipe morfosedimen barrier prograding memiliki tipikal reggresive stratigraphy karena tipe ini terbentuk pada arah arus yang menuju ke daratan ketebalan barrier nya sekitar 10-20 m biasanya mengandung butiran pasir yang halus dan lanau (silt). Urutan barier terdiri dari pasir nearshore, endapan pantai, dan pasir dune yang terbentuk. Terbentuk juga struktur coarsening up ward . Sedangkan tipe morfosedimen barrier retrograding terbentuk berlawanan dengan prograding, sehingga bertipikal transgresive stratigraphy . Jika barrier turun cukup jauh dari landward (daratan) maka terendapkan pada dasar sekuen. Pada keadaan ini kita dapat menemukan akar pohon, tanah, dan endapan yang lainnya tak terkecuali silt dan clay. Disekitar cerukan tidal akan ditemukan channel dan floodtidal delta sands. Pada banyak kasus, barrier dipengaruhi oleh dua faktor yaitu seaward dan landward. Hal ini dapat terjadi karena suplai sedimen dan ketinggian dari naiknya sea level. Contohnya suatu sekuen sedimen barrier yang jarang hanya terendapkan dune, lagoonal deposits dll tetapi tidak seperti endapan yang sudah dijelaskan sebelumnya.
                                         Gambar 5. Transgresion dan Regresion

Kesimpulan
-          Barrier island terbentuk di lingkungan transisi
-          Pembentukan barrier island ada 3 toeri yaitu :
1.      Offshore Bar accretion oleh de Beamount, 1854
2.      Spit Accretion and breaching oleh Gilbert, 1885
3.      Mainland Detachment oleh Hoyt, 1967
Namun pada akhirnya ketiga ini dapat terbentuk sesuai dengan kondisi di tepat yang sebenarnya
-          Di setiap pulau penghalang (barrier island) terbentuk dengan proses yang berbeda – beda
-          Beberapa hal yang mempengaruhi variasi barrier island adalah suplai sedimen, kenaikan sea level, energi gelombang dan arus, iklim, dan topografi daratan pada saat barrier berkembang menjadi sebuah endapan stratigrafi.
-          Ada 2 tipe morfosedimen barrier island yaitu prograding dan retrograding








DAFTAR PUSTAKA

Boggs Sam, 2006 Principle of Sedimentary and Stratigraphy New Jersey : Prentice Hall

Midleton V Gerald, 2003 Encyclopedia of sediments and sedimentary rocks Canada : Springer

Surjono S Sugeng , 2009  Sedimentologi Yogyakarta : Jurusan Teknik Gologi FT UGM







Kamis, 06 Desember 2012

Litostratigrafi dan Biostratigrafi


LITOSTRATIGRAFI DAN BIOSTRATIGRAFI


LITOSTRATIGRAFI
Litostratigrafi merupakan studi stratigrafi yang memfokuskan kepada jenis – jenis litologi yang diamati di lapangan. Hal ini bertujuan untuk mengelompokkan jenis litologi yang berbeda secara bersistem. Pada satuan litostratigrafi penentuan satuannya berdasarkan ciri litologi yang teramati di lapangan. Ciri tersebut meliputi janis batuan, kombinasi antar batuan (unconformity, superposisi, crosscutting), struktur dll. Penentuan batas penyebarannya tidak terlangsung atas batas waktu. Jika ciri di atas belum memuaskan, maka akan digunakan data geokimia, geofisika dll. Prinsip superposisi dan letak fosil yang ditemukan merupakan salah satu komponen batuan.
Urutan tingkatan satuan resmi litostratigrafi dari besar ke kecil adalah kelompok – formasi – anggota. Namun memiliki satuan dasar yaitu formasi.
Di bawah ini akan dijelaskan mengenai unit satuan resmi litostratigrafi tersebut.
-          Kelompok
Merupakan satuan lebih besar dari formasi yang terdiri dari dua atau lebih formasi. Formasi ini memiliki kesamaan ciri litologinya.
-          Formasi
Formasi merupakan satuan dasar litostratigrafi. Formasi bisa saja tidak termasuk dalam suatu unit kelompok, dan tidak hatus memiliki anggota. Ketebalannya kurang dari satu meter hingga beribu-ribu meter. Formasi harus bisa dipetakan dalam skala 1:25.000, memiliki keseragaman ciri fisik dan mempunyai nilai stratigrafi.
-          Anggota
Anggota merupakan bagian dari suatu formasi. Namun memiliki ciri khas yang relatif berbeda dengan formasi tersebut. Anggota tidak memiliki penyebaran yang lebih besar dari formasi. Sehingga anggota selalu merupakan bagian dari formasi.

BIOSTRATIGRAFI
Biostratigrafi merupakan salah satu ilmu stratigrafi yang mempelajari konsep penamaan suatu strata dengan berdasarkan kandungan sisa organisme (fosil). Contoh trilobita yang merupakan salah satu fosil Indeks.
Urutan tingkat satuan biostratigrafi resmi, masing-masing dari besar sampai kecil adalah :
·         Super zona
·        Zona adalah suatu lapisan atau tubuh batuan yang dicirikan oleh takson  ·         Sub – zona
·         Zonula
Berdasarkan ciri paleontologinya biostratigrafi dibedakan menjadi
-          Zona kumpulan
-          Zona kisaran
-          Zona puncak
-          Zona selang
-          Zona rombakan
-          Zona padat


PERBEDAAN ANTARA LITOSTRATIGRAFI DAN BIOSTRATIGRAFI

Letak perbedaan kedua jenis ilmu stratigrafi ini terletak pada perbedaan sistemnya. Sistem yang ada pada litostratigrafi adalah penggolongan batuan dengan sistem tertentu berdasarkan pada ciri litologinya. Sedangkan biostratigrafi memiliki sistem tetapi berdasarkan kandungan sisa organisme  untuk penamaan batuan/strata tersebut. Dari data data tersebut dapat ditentukan lingkungan pengendapan dari suatu sedimen. Hal ini juga sangat berpengaruh pada data yang  digunakan pada analisis. Namun dapat juga dikorelasikan sehingga mendapat hasil yang lebih baik.





  
DAFTAR PUSTAKA

Nichols Gary, 1999 Sedimentology and stratigrafi Pondicherry : Wiley – black Well